Jumat, 15 Juni 2012

Beasiswa Studi di Jepang untuk Lulusan SLTA


shutterstockIlustrasi.
KOMPAS.COM - Pemerintah Jepang kembali menawarkan program beasiswa untuk para siswa-siswi lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas (S-1), College of Technology (D-3) atau Professional Training College (D-2) di Jepang mulai tahun akademik 2013 (April 2013). Beasiswa ini tidak ada ikatan dinas.

Pendaftaran untuk keberangkatan tahun 2013 telah dibuka pada 14 Mei 2012 dan akan ditutup pada tanggal 15 Juni 2012. Pelamar hanya bisa mendaftar 1 (satu) program dari S-1, D-3, atau D-2.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain lulus SLTA; nilai rata-rata ijazah atau rapor kelas 3 semester terakhir minimal 8,4. Calon pelamar program ini diutamakan yang lahir antara 2 April 1991 dan 1 April 1996.

Setiap pelamar harus lulus dalam ujian tertulis, yakni

Dibuka, Beasiswa dari Seoul National University!


KOMPAS.COM - Seoul National University (SNU) menawarkan beasiswa untuk program S-1 dan S-2 untuk tahun akademik 2013/2014. SNU akan memberikan sebanyak 240 beasiswa untuk kedua program tersebut.
Adapun bidang studi diprioritaskan untuk menerima beasiswa ini meliputi Sains dan Pertanian, Administrasi Bisnis, Ilmu Pendidikan, Teknik, Humaniora, Sosial, Biologi, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat (S-2), Administrasi Pemerintahan (S-2), dan International Studies (S-2).
Bagi yang berminat, skema beasiswa ini meliputi uang kuliah, tunjangan hidup, tunjangan asrama, serta tiket pulang. Aplikasi dibuka Juni - Desember 2012 dan informasi detail bisa dilihat dihttp://en.snu.ac.kr/apply/info

Perlukah Mengajarkan Calistung di Usia Dini?


KindyROOKegiatan bermain di KindyROO dilakuakn secara terarah.
Foto:

KOMPAS. COM - Tak sedikit orangtua yang bangga dengan kemampuan balitanya dalam membaca, menulis dan berhitung (calistung). Mereka yakin anak yang diajarkan kemampuan calistung sejak dini lebih pintar dari anak seusianya.

Di tambah lagi, kini semakin banyak sekolah dasar yang mensyaratkan calon siswanya punya kemampuan calistung, kendati hal itu sebenarnya dilarang. Karena khawatir anaknya tidak bisa masuk ke SD favorit, para orangtua pun berlomba-lomba mengajari anaknya calistung, antara lain dengan memilih playgroup atau TK yang menjamin balita mahir calistung sebagai persiapan masuk SD.
Apabila minat membaca dan menulis anak sudah muncul sejak dini mungkin proses mengajarkan calistung pada anak menjadi lebih

Pemerintah Lalai Awasi Perbukuan



Robertus BelarminusFSGI dan FGII mengkritik atas beredarnya buku berkonter remaja terhadap anak Sekolah Dasar (SD). Kritik ini dilangsungkan di Kantor ICW di kalibata, Jakarta Selatan
KOMPAS.COM - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengkritik peredaran buku di Bandung dan beberapa daerah lainnya yang ditulis Forum Lingkar Pena (FLP) untuk kalangan siswa Sekolah Dasar (SD). Kedua federasi guru tersebut menilai, buku-buku itu tidak sesuai bagi siswa SD karena isinya lebih cenderung untuk kalangan remaja.
Ini tidak sesuai dengan anak SD. Menurut saya, pemerintah harus kembali memikirkan, bahwa banyak buku tidak berkualitas.
-- Retno Listyarti
Beberapa buku yang dikritik tersebut berjudul 'Tidak Hilang Sebuah Nama', 'Ada Duka di Wibeng', 'Syahid Samurai', dan 'Festival Syahadah'. Terkait hal itu, Sekjen FSGI Retno Listyarti, mengatakan, buku yang beredar tersebut tidak sesuai untuk siswa SD. Ia menyayangkan kelalaian dan lemahnya pengawasan pemerintah atas beredarnya buku tersebut.
"Ini tidak sesuai dengan anak SD. Menurut saya, pemerintah harus kembali memikirkan, bahwa banyak buku tidak berkualitas, mulai substansi isi dan untuk apa belajar dari hal itu. Kan bisa, misalnya, dengan buku yang membangun

Kamis, 14 Juni 2012

Indonesia Mengajar Kirim Angkatan Baru ke Pelosok


KOMPAS/BUDI SUWARNAFirman Budi Kurniawan (berdiri) sedang mengajar pelajaran menggambar dan Bahasa Inggris di sebuah bukit di tengah hutan di Dusun Beroangin, Malunda, Majene, Sulawesi Barat, Selasa (18/1/2011). Peserta program Indonesia Mengajar seperti Firman harus kreatif di tengah minimnya fasilitas pendidikan di lokasi penugasan.
KOMPAS.COM - Sebanyak 71 pengajar muda angkatan keempat mulai menuju lokasi mengajar di berbagai daerah Jumat dan Sabtu pekan ini. Mereka akan ditempatkan selama satu tahun di 71 SD di 10 kabupaten di sembilan provinsi.
Retno Widyastuti dari Indonesia Mengajar mengemukakan, para pengajar muda angkatan keempat yang direkrut Indonesia Mengajar ini terpilih dari 8.501 pelamar. Mereka yang terpilih akan mengabdi selama satu tahun, hidup bersama masyarakat, dan memperjuangkan anak-anak di berbagai pelosok untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
Setelah mengikuti pelatihan intensif selama tujuh pekan, para pengajar muda ini disebar ke Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim (Sumatera Selatan), Lebak (Banten), Pulau Bawean (Jawa Timur), Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kepualauan Sangihe (Sulawesi Utara), Bima (Nusa Tenggara Barat), Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), Maluku Tenggara Barat (Maluku), dan Fakfak (Papua Barat). Mereka menggantikan para pendahulunya yang akan menyelesaikan

Senin, 11 Juni 2012

Mengimplementasikan Budaya Kepemimpinan di Sekolah


Dunamis FoundationPelatihan implementasi budaya kepemimpinan di SDSN 12 Benhil, Jakarta Pusat.

Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) 12 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang menjadi sekolah negeri pertama berbasis karakter kepemimpinan di Indonesia, menggelar pelatihan Implementasi Budaya I. Pelatihan yang digelar beberapa hari lalu ini, diikuti oleh para guru, komite sekolah, serta staf administrasi SDSN 12 Benhil.

Implementasi Budaya I merupakan bagian dari penerapan program The Leader in Me, setelah sebelumnya ada Vision Day dan pelatihan The 7 Habits of Highly Effective Educators oleh Dunamis Foundation. Direktur Dunamis Foundation Andiral Purnomo mengatakan, The Leader in Me merupakan program membangun karakter anak didik sejak dini melalui pengembangan karakter kepemimpinan pendidikan

Kamis, 07 Juni 2012

45 Mahasiswa Raih Beasiswa Riset Pangan


ShutterstockIlustrasi
KOMPAS.COM - Sebanyak 45 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia menerima bantuan dana penelitian Indofood Riset Nugraha. Program ini merupakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada peneliti unggul, khususnya dalam bidang yang terkait dengan ketahanan pangan nasional.
Direktur Indofood Franciscus Welirang mengatakan, Indofood Riset Nugraha (IRN) dipersembahkan guna mendorong dan mengembangkan budaya meneliti di kalangan generasi muda. Untuk melaksanakan program ini, Indofood menggelontorkan total biaya sebesar Rp 1,2 miliar.
"Kami berharap IRN dapat memotivasi mahasiswa agar terus berkarya mengembangkan ide dan pemikiran mereka melalui penelitian yang berkualitas, khususnya di bidang keanekaragaman pangan, yang pada akhirnya dapat bermanfaat bagi bangsa Indonesia," kata Franciscus, Rabu (30/5/2012), di Jakarta.
Para peneliti penerima bantuan adalah mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jurusan yang akan melakukan penelitian dalam rangka penyelesaian tugas akhir. Penyerahan bantuan ditandai dengan penandatanganan kontrak kerja sama penelitian