Tampilkan postingan dengan label Opini Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2012

Mengimplementasikan Budaya Kepemimpinan di Sekolah


Dunamis FoundationPelatihan implementasi budaya kepemimpinan di SDSN 12 Benhil, Jakarta Pusat.

Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) 12 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang menjadi sekolah negeri pertama berbasis karakter kepemimpinan di Indonesia, menggelar pelatihan Implementasi Budaya I. Pelatihan yang digelar beberapa hari lalu ini, diikuti oleh para guru, komite sekolah, serta staf administrasi SDSN 12 Benhil.

Implementasi Budaya I merupakan bagian dari penerapan program The Leader in Me, setelah sebelumnya ada Vision Day dan pelatihan The 7 Habits of Highly Effective Educators oleh Dunamis Foundation. Direktur Dunamis Foundation Andiral Purnomo mengatakan, The Leader in Me merupakan program membangun karakter anak didik sejak dini melalui pengembangan karakter kepemimpinan pendidikan

Kamis, 10 Mei 2012

Ironis, Ijazah Anak Guru Malah Ditahan!

Hanya karena belum melunasi biaya administratif, ijazah Mohareni, siswi kelas 3 SMAN 15 Tangerang, ditahan pihak sekolah.
Bahkan, untuk meminjam untuk keperluan melamar kerja pun tidak diperbolehkan.
Saya sadar belum bisa melunasi biaya administratif, tapi saat hanya ingin meminjamnya pun tidak boleh.
– Fadiloes Bahar
“Anak saya sudah tamat di SMAN 15 Tangerang. Karena ingin melamar kerja, dia harus punya ijazah asli. Saya sadar belum bisa melunasi biaya administratif, tapi saat hanya ingin meminjamnya pun tidak boleh,” ujar Fadiloes Bahar, orangtua Mohareni, kepada Kompas.com, di Jakarta.
Fadiloes mengungkapkan, kejadian tersebut juga terjadi pada siswa lain yang menunggak pembayaran biaya administratif. Padahal, kata dia, dirinya sudah berinisiatif mencicil tunggakan itu.
“Tunggakan saya sebesar Rp 3 juta rupiah, tapi berniat untuk mencicilnya kok,” ungkap Fadiloes, yang juga berprofesi sebagai guru SMPN 8 Tangerang.
Menurut dia, yang dimaksud uang administratif itu antara lain uang bimbingan belajar dan uang pendaftaran awal tahun ajaran baru dan masih banyak lagi. “Saya sangat kecewa terhadap pihak sekolah, masak untuk meminjamnya saja tidak boleh,” lanjut dia
Sumber: Kompas.com

Selasa, 01 Mei 2012

Peran Guru sebagai Motivator dalam KTSP

Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator.

Peran Guru sebagai Motivator
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif.
Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para

Jumat, 16 Desember 2011

Siapa Mau Perhatikan Sekolah di Daerah?


Sekolah di daerah kurang mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah. Nyatanya, masih banyak sekolah di daerah yang anak didiknya belajar di lantai atau satu kelas dibagi dua pembelajaran sehingga peserta didik kurang konsentrasi belajar.
Ini masalah waktu saja sehingga akhirnya pemerintah melihat juga kesenjangan pendidikan di daerah dengan di kota.
– Dewi Susanti
“Saya rasa, perhatian untuk sekolah di daerah bisa datang dari siapa saja,” ujar Dewi Susanti, Project Manager Program Pelita Pendidikan, di Jakarta. Program Pelita Pendidikan adalah

Pendidikan Kita Masih “Dihantui” Krisis


Pendidikan di Indonesia saat ini masih mengalami krisis, baik krisis secara logistik maupun fungsional. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Pendidikan yang mengurung mereka di dalam kelas dan membuat mereka takut menghadapi kenyataan di lapangan.
– Paulus Wirutomo
Demikian diungkapkan Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo, dalam diskusi publik “RAPBN 2011: Anggaran, Proyeksi Pengembangan Bangsa”, di Jakarta, Kamis (12/8/2010). Paulus mengatakan, krisis logistik menyangkut masalah pendanaan dan fasilitas, sementara krisis fungsional menyoal pada tujuan hakiki dari pendidikan itu sendiri.
“Tujuan hakiki pendidikan adalah membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, memberikan kemandirian, mengembangkan kesadaran tentang

Yang Miskin Susah Kuliah…!!!


Sejumlah mahasiswa dari keluarga miskin terancam tidak bisa kuliah di Universitas Jember (Unej), Kabupaten Jember, Jawa Timur, karena tidak memiliki biaya daftar ulang.
“Saya sudah ajukan surat permohonan toleransi perpanjangan waktu membayar biaya daftar ulang, namun pihak Rektorat selalu berbelit-belit.!”
– Ahmad Ainun Nadjib
Ahmad Ainun Nadjib dan Hermawan Bagus, misalnya. Meskipun lolos pada seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), keduanya tidak bisa melakukan daftar ulang

Kamis, 15 Desember 2011

Awas, “Culture Shocked”!

Setiap tahun pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studinya ke luar negeri meningkat sebesar 20 persen. Negara-negara yang banyak diminati para pelajar tersebut antara lain Inggris, Australia, China, Amerika Serikat, Singapura, serta Malaysia.
Ketiga melakukan persiapan mental, mempelajari bahasa asing serta pengetahuan tentang negara tujuan studi.
– Harianto
Demikian diungkapkan Ketua Ikatan Konsultan Pendidikan Internasional Indonesia (IKPII) Harianto, di acara

Nikmat dan Indahnya Pendidikan

 

Menjadi siswa sebuah sekolah bertaraf internasional dan tinggal di asrama, jauh dari benak siswa tertentu, apalagi yang ”cuma” anak pedagang di kantin sekolah atau supir dan penjaja kue-kue kering di pasar. Membayangkan untuk melanjutkan bersekolah seusai lulus SMP pun tidak pernah ada di pikiran para pencetak masa depan itu.
Kenapa, karena mungkin kita semua tidak akan menutup mata, atau memang ada yang sengaja menutup mata dengan pelbagai macam dalih tentang  Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tersebut. Ada beberapa RSBI yang awalnya memang digratiskan untuk siswa-siswa berprestasi namun

Guru, elemen yang terlupakan


Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.

Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi?

Gelar....Mabuknya Pendidikan


Sekali lagi, Indonesia dihadapkan pada kasus yang mencoreng nama pendidikan. Kasus jual beli gelar yang dipraktekkan oleh IMGI. Cara memperoleh gelar ini sangatlah mudah, Anda tinggal menyetor 10-25 juta, dan Anda dapat gelar yang Anda inginkan..Tinggal pilih...apakah S1, S2, atau S3....benar-benar edan! Sebagian orang mabuk kepayang akan nilai gelar yang memabukkan. Dan tidak tanggung-tanggung yang pernah membeli gelar dari IMGI ini...sekitar 5000 orang.

Ini adalah protet buram masyarakat Indonesia yang memuja gelar melampaui batas. Dengan titel, seakan-akan masa depan

Hakikat Pendidikan

 

Apa sih hakikat pendidikan? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan?

Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperi pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki hajar dewantoro mungkin bakal menangis lihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di UUD 43, bah!), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya.

Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh" lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata

Diskriminasi Pendidikan


Diambil dari pendidikanmurah
---------------------------------------------------------------

Rasa-rasanya rasa muakku sudah sampai pada puncaknya.

Setelah membaca rubrik Humaniora di harian Kompas edisi hari ini, aku menjadi semakin jengkel saja dengan kebijakan sistem pendidikan di Indonesia yang kian lama kian wagu saja. Akhir-akhir ini rubrik Humaniora Kompas memang banyak menyoroti tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Diawali dengan pemberitaan mengenai ide cemerlang dari salah seorang ketua RW di salah satu desa di Sala Tiga yang dengan kreatifnya menggagas sebuah sekolah alternatif untuk siswa SLTP dengan konsep sekolah terbukanya sampai pada kegilaan mungkin lebih tepat jika disebut kebodohan

Kapitalisme Pendidikan

 

Sudah rahasia umum jika pendidikan sekarang sangat mahal. Yah seperti kata buku, orang miskin dilarang sekolah! Memprihatinkan, tapi itulah kenyataannya. Masuk TK saja bisa mencapai ratusan ribu maupun jutaan rupiah, belum lagi kalo masuk SD-SMP-SMA-Universitas yang favorit. Kalau dihitung, seseorang yang masuk TK sampai dengan universitas yang favorit akan menghabiskan 100 juta lebih. Wow!
Sekolah memang harus mahal, itulah stigma yang tertanam