Tampilkan postingan dengan label Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Perlukah Mengajarkan Calistung di Usia Dini?


KindyROOKegiatan bermain di KindyROO dilakuakn secara terarah.
Foto:

KOMPAS. COM - Tak sedikit orangtua yang bangga dengan kemampuan balitanya dalam membaca, menulis dan berhitung (calistung). Mereka yakin anak yang diajarkan kemampuan calistung sejak dini lebih pintar dari anak seusianya.

Di tambah lagi, kini semakin banyak sekolah dasar yang mensyaratkan calon siswanya punya kemampuan calistung, kendati hal itu sebenarnya dilarang. Karena khawatir anaknya tidak bisa masuk ke SD favorit, para orangtua pun berlomba-lomba mengajari anaknya calistung, antara lain dengan memilih playgroup atau TK yang menjamin balita mahir calistung sebagai persiapan masuk SD.
Apabila minat membaca dan menulis anak sudah muncul sejak dini mungkin proses mengajarkan calistung pada anak menjadi lebih

Pemerintah Lalai Awasi Perbukuan



Robertus BelarminusFSGI dan FGII mengkritik atas beredarnya buku berkonter remaja terhadap anak Sekolah Dasar (SD). Kritik ini dilangsungkan di Kantor ICW di kalibata, Jakarta Selatan
KOMPAS.COM - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengkritik peredaran buku di Bandung dan beberapa daerah lainnya yang ditulis Forum Lingkar Pena (FLP) untuk kalangan siswa Sekolah Dasar (SD). Kedua federasi guru tersebut menilai, buku-buku itu tidak sesuai bagi siswa SD karena isinya lebih cenderung untuk kalangan remaja.
Ini tidak sesuai dengan anak SD. Menurut saya, pemerintah harus kembali memikirkan, bahwa banyak buku tidak berkualitas.
-- Retno Listyarti
Beberapa buku yang dikritik tersebut berjudul 'Tidak Hilang Sebuah Nama', 'Ada Duka di Wibeng', 'Syahid Samurai', dan 'Festival Syahadah'. Terkait hal itu, Sekjen FSGI Retno Listyarti, mengatakan, buku yang beredar tersebut tidak sesuai untuk siswa SD. Ia menyayangkan kelalaian dan lemahnya pengawasan pemerintah atas beredarnya buku tersebut.
"Ini tidak sesuai dengan anak SD. Menurut saya, pemerintah harus kembali memikirkan, bahwa banyak buku tidak berkualitas, mulai substansi isi dan untuk apa belajar dari hal itu. Kan bisa, misalnya, dengan buku yang membangun

Kamis, 14 Juni 2012

Indonesia Mengajar Kirim Angkatan Baru ke Pelosok


KOMPAS/BUDI SUWARNAFirman Budi Kurniawan (berdiri) sedang mengajar pelajaran menggambar dan Bahasa Inggris di sebuah bukit di tengah hutan di Dusun Beroangin, Malunda, Majene, Sulawesi Barat, Selasa (18/1/2011). Peserta program Indonesia Mengajar seperti Firman harus kreatif di tengah minimnya fasilitas pendidikan di lokasi penugasan.
KOMPAS.COM - Sebanyak 71 pengajar muda angkatan keempat mulai menuju lokasi mengajar di berbagai daerah Jumat dan Sabtu pekan ini. Mereka akan ditempatkan selama satu tahun di 71 SD di 10 kabupaten di sembilan provinsi.
Retno Widyastuti dari Indonesia Mengajar mengemukakan, para pengajar muda angkatan keempat yang direkrut Indonesia Mengajar ini terpilih dari 8.501 pelamar. Mereka yang terpilih akan mengabdi selama satu tahun, hidup bersama masyarakat, dan memperjuangkan anak-anak di berbagai pelosok untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
Setelah mengikuti pelatihan intensif selama tujuh pekan, para pengajar muda ini disebar ke Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim (Sumatera Selatan), Lebak (Banten), Pulau Bawean (Jawa Timur), Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kepualauan Sangihe (Sulawesi Utara), Bima (Nusa Tenggara Barat), Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), Maluku Tenggara Barat (Maluku), dan Fakfak (Papua Barat). Mereka menggantikan para pendahulunya yang akan menyelesaikan

Sabtu, 02 Juni 2012

Pendidikan di Indonesia Memprihatinkan

Pendidikan di Indonesia saat ini kondisinya memprihatinkan, karena sekitar 21 persen sekolah dasar di kota kekurangan guru, kata Rektor Universitas Paramadina Jakarta Anies Baswedan. “Kondisi serupa juga terjadi di desa dengan angka kekurangan guru sekitar 37 persen, dan di desa terpencil sekitar 60 persen. Kondisi itu akan semakin parah pada lima tahun ke depan, karena sekitar 75 persen guru sekolah dasar (SD) di Indonesia pensiun,” katanya di Yogyakarta, Jumat.
Oleh karena itu, menurut dia pada diskusi publik mengenai peran pemimpin muda dalam

Jumat, 01 Juni 2012

Pendidikan Tinggi Bisa Mencegah Pikun


Gejala demensia seperti kehilangan memori akan berkurang pada orang yang mengambil pendidikan tinggi. Menghabiskan waktu untuk membaca, mengeksplorasi buku dan mempersiapkan ujian memiliki manfaat fisik saat tua nanti.
Studi ini semakin memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang telah menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bisa membantu memberikan perlindungan
atau melawan gejala dari stadium akhir suatu penyakit pada orang tersebut.
Dalam melakukan studi ini, peneliti dari University of Gothenburg menganalisa cairan

Kamis, 31 Mei 2012

Kisah Nyata: Mencari Ilmu Di Usia Senja Tanpa Kenal “Terlambat”


Ada sebuah kisah di dataran China, tepatnya di Kota Jinan, Provinsi Shandong. Seorang nenek berusia 102 tahun bertekad menuntut ilmunya dengan menjadi murid salah satu sekolah dasar di daerah setempat.
Dialah Ma Xiuxian, sosok nenek tersebut. Sosok yang tidak berlebihan jika disebut sebagai murid SD tertua di dunia.
Luar biasa, memang. Di usia yang tidak semua

Kamis, 10 Mei 2012

Ironis, Ijazah Anak Guru Malah Ditahan!

Hanya karena belum melunasi biaya administratif, ijazah Mohareni, siswi kelas 3 SMAN 15 Tangerang, ditahan pihak sekolah.
Bahkan, untuk meminjam untuk keperluan melamar kerja pun tidak diperbolehkan.
Saya sadar belum bisa melunasi biaya administratif, tapi saat hanya ingin meminjamnya pun tidak boleh.
– Fadiloes Bahar
“Anak saya sudah tamat di SMAN 15 Tangerang. Karena ingin melamar kerja, dia harus punya ijazah asli. Saya sadar belum bisa melunasi biaya administratif, tapi saat hanya ingin meminjamnya pun tidak boleh,” ujar Fadiloes Bahar, orangtua Mohareni, kepada Kompas.com, di Jakarta.
Fadiloes mengungkapkan, kejadian tersebut juga terjadi pada siswa lain yang menunggak pembayaran biaya administratif. Padahal, kata dia, dirinya sudah berinisiatif mencicil tunggakan itu.
“Tunggakan saya sebesar Rp 3 juta rupiah, tapi berniat untuk mencicilnya kok,” ungkap Fadiloes, yang juga berprofesi sebagai guru SMPN 8 Tangerang.
Menurut dia, yang dimaksud uang administratif itu antara lain uang bimbingan belajar dan uang pendaftaran awal tahun ajaran baru dan masih banyak lagi. “Saya sangat kecewa terhadap pihak sekolah, masak untuk meminjamnya saja tidak boleh,” lanjut dia
Sumber: Kompas.com

Kamis, 26 April 2012

Indonesia Membutuhkan Guru Profesional


Siswa tidur di kelas
Siswa tidur di kelas
Sebagian besar guru memang belum mampu menerapkan metode pengajaran yang interaktif untuk mendorong siswanya terlibat secara aktif di dalam kelas. Dengan gaji guru yang semakin meningkat, semestinya keprofesionalan guru dalam mengajar juga meningkat.
Hal itu diungkapkan Retno Listyarti, guru SMAN 13 Jakarta Utara. ”Benar kalau penelitian menyebutkan sebagian besar guru menggunakan metode konvensional dalam mengajar di kelas,” ujar Retno, kepada Republika, Selasa (6/7)

Jumat, 16 Desember 2011

Siapa Mau Perhatikan Sekolah di Daerah?


Sekolah di daerah kurang mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah. Nyatanya, masih banyak sekolah di daerah yang anak didiknya belajar di lantai atau satu kelas dibagi dua pembelajaran sehingga peserta didik kurang konsentrasi belajar.
Ini masalah waktu saja sehingga akhirnya pemerintah melihat juga kesenjangan pendidikan di daerah dengan di kota.
– Dewi Susanti
“Saya rasa, perhatian untuk sekolah di daerah bisa datang dari siapa saja,” ujar Dewi Susanti, Project Manager Program Pelita Pendidikan, di Jakarta. Program Pelita Pendidikan adalah

Pendidikan Kita Masih “Dihantui” Krisis


Pendidikan di Indonesia saat ini masih mengalami krisis, baik krisis secara logistik maupun fungsional. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Pendidikan yang mengurung mereka di dalam kelas dan membuat mereka takut menghadapi kenyataan di lapangan.
– Paulus Wirutomo
Demikian diungkapkan Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo, dalam diskusi publik “RAPBN 2011: Anggaran, Proyeksi Pengembangan Bangsa”, di Jakarta, Kamis (12/8/2010). Paulus mengatakan, krisis logistik menyangkut masalah pendanaan dan fasilitas, sementara krisis fungsional menyoal pada tujuan hakiki dari pendidikan itu sendiri.
“Tujuan hakiki pendidikan adalah membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, memberikan kemandirian, mengembangkan kesadaran tentang

Yang Miskin Susah Kuliah…!!!


Sejumlah mahasiswa dari keluarga miskin terancam tidak bisa kuliah di Universitas Jember (Unej), Kabupaten Jember, Jawa Timur, karena tidak memiliki biaya daftar ulang.
“Saya sudah ajukan surat permohonan toleransi perpanjangan waktu membayar biaya daftar ulang, namun pihak Rektorat selalu berbelit-belit.!”
– Ahmad Ainun Nadjib
Ahmad Ainun Nadjib dan Hermawan Bagus, misalnya. Meskipun lolos pada seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), keduanya tidak bisa melakukan daftar ulang

Kamis, 15 Desember 2011

Awas, “Culture Shocked”!

Setiap tahun pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studinya ke luar negeri meningkat sebesar 20 persen. Negara-negara yang banyak diminati para pelajar tersebut antara lain Inggris, Australia, China, Amerika Serikat, Singapura, serta Malaysia.
Ketiga melakukan persiapan mental, mempelajari bahasa asing serta pengetahuan tentang negara tujuan studi.
– Harianto
Demikian diungkapkan Ketua Ikatan Konsultan Pendidikan Internasional Indonesia (IKPII) Harianto, di acara

Mari, Kembali ke Tujuan Murni Pendidikan

 

Pendidikan dan pengajaran yang telah diselenggarakan saat ini belum berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin nasional yang tangguh melaksanakan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Pada tataran kenegaraan, peran negara sebagai “Negara Pengurus” yang harus melaksanakan good governance masih jauh untuk dikatakan berhasil.
Tugas utama pendidikan kita adalah membina watak, membangun karakter. Lebih khusus dari itu, adalah

Sekolah Global di Desa Kecil Kalibening


FINA Af'idatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional dan bukan anak orang berada. Ia lahir sebagai anak petani di Desa Kalibening, tiga kilometer perjalanan arah selatan dari kota Salatiga menuju Kedungombo, Jawa Tengah. Karena orangtuanya tidak mampu, ia terpaksa melanjutkan sekolah di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di desanya. Namun, dalam soal kemampuan Fina boleh dipertandingkan dengan siswa sekolah-sekolah mahal yang kini menjamur di Jakarta.

MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, bagi Fina internet bukan hal yang asing. Ia bisa mengakses internet kapan saja. Setiap pagi berlatih bahasa Inggris

Jumat, 09 Desember 2011

Profesionalisme Guru

PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU
YANG BERKELANJUTAN


I. PEDAHULUAN

A. DASAR PEMIKIRAN
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,   Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Peraturan Menteri Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan, maka diperlukan rambu-rambu bimbingan teknis bagi guru untuk pengembangan profesionalisme yang berkelanjutan.
Akhir-akhir ini banyak pihak menyatakan bahwa kualitas guru kita rendah, kesejahteraan yang diterima guru kurang memadai, dan diskriminasi status guru. Apakah pekerjaan yang disandang guru suatu profesi? Padahal guru mengemban tugas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 39 Ayat 1 UUSPN Tahun 2003 bahwa: ”Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan”. Ayat 2. ”Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,melakukan pembimbingan dan pelatihan……..”